Tampilkan postingan dengan label kondom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kondom. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

Habis Valentine, Positiflah Test Pack

Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Muqodimah

Terinspirasi dari kisah beberapa teman yang tengah hamil trimester pertama, yang tanpa sengaja berdekatan dengan tanggal 14 Februari tahun ini. Sebagai catatan awal, kehamilan mereka jelas. Jelas pengecekan pertama biasanya positif dengan test pack, jelas proses pernikahannya, dan jelas juga siapa bapak dari si janinnya, karena mereka memang pengantin baru. Ada juga yang pengantin lama, maksudnya kehamilan anak kedua, ketiga, atau lebih.

Namun dari balik Valentine’s Day itu sendiri, ternyata kehamilan bisa menjadi fenomena. Meski belum menemukan data penggunaan test pack atau data aborsi setelah momen ‘cinta’ tersebut, tapi setidaknya bisa ditebak dari data hasil penjualan kondom pra-V-day dan data penggrebekan saat hari-H-nya.

Begini ceritanya. Berawal dari kisah Penjabat (Pj) Walikota Samarinda, Meiliana, yang tampak geram saat mengungkapkan fakta baru. Sepekan ini, pembelian alat kontrasepsi kondom sangat tinggi. Akibatnya, stok barang di pasaran kosong. Diduga kondisi ini terkait dengan peringatan Hari Kasih Sayang (Valentine's Day), Minggu, 14 Februari (kaltim.tribunnews.com, 12/02/2016).

Kondom Laris Manis, Penjualan Minuman Keras Naik 50 Persen

“Kondom kosong di apotek. Ini kan sangat bahaya. Kalau yang menggunakan orangtua tidak masalah, kalau yang menggunakan anak di bawah umur bagaimana? Kita harus bergerek, kalau tidak kita siapa lagi,” kata Meiliana. Terkait fenomena tersebut, Meilina kemudian membuat surat edaran ke kalangan sekolah. Ia juga mengaku telah menginstruksikan Satpol Pamong Praja agar merazia tempat hiburan malam pada malam perayaan Valentine, Sabtu atau Minggu (13-14/2/2016). “Nanti salah satunya juga dirazia hotel,” ujar Mei sembari menyebut imbauan serupa diberikan kepada manajemen hotel-hotel di Kota Tepian (kaltim.tribunnews.com, 12/02/2016).

Belum lagi dengan kisah dari kota di pulau seberang, Makassar, dimana sebanyak 15 pasangan mesum terjaring dalam razia malam Valentine di sejumlah hotel di Makassar. Razia tersebut digelar oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Makassar pada Sabtu (13/02) malam. Ke-15 pasangan yang tergolong muda-mudi ini diamankan saat berduaan di dalam kamar dan tidak membawa Buku Nikah. Dalam penggerebekan ini juga diamankan beberapa alat kontrasepsi, tisu magic dan obat kuat. Mereka diangkut menggunakan truk milik Satpol PP menuju kantor Balaikota Makassar untuk diambil datanya sebelum dijemput keluarganya.

Menurut Kabid Penegakan Hukum dan Perda Satpol PP Makassar Edward Supriawan, operasi penertiban ini bertempat di 10 wisma dan hotel kelas melati yang ada di Makassar dan dilakukan berdasarkan Perda No 10 tahun 2012 tentang pengawasan, pengendalian operasi rumah kost, wisma dan hotel. Operasi penggrebekan ini juga terkait Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Makassar berupa larangan merayakan Hari Valentine bagi pelajar se-kota Makassar, serta perintah langsung dari Walikota Makassar Ramdhan Pomanto untuk menindak pelaku perbuatan asusila, khususnya dalam momen hari Valentine.

”Dalam operasi malam Valentine ini beberapa di antaranya yang diamankan berasal dari mahasiswa, karyawan dan PNS, tahap selanjutnya pendataan dan pembinaan, disinkronkan dengan data 2015, jika ada yang ditemukan sudah pernah diamankan sebelumnya dengan pasangan berbeda maka dia disangkakan melakukan praktek prostitusi dan akan diproses lebih lanjut,” ujar Edward, Sabtu (13/02).

Selain larangan merayakan hari Valentine, Pemkot Makassar juga menerbitkan Surat Imbauan yang ditempel di sejumlah apotek dan mini market terkait larangan menjual alat kontrasepsi pada anak di bawah umur dan orang dewasa yang telah menikah dengan menunjukkan bukti kartu identitas KTP yang dimilikinya (news.detik.com, 14/02/2016).

Nah lho. Jadi, apa kabar seminggu pasca Valentine? Apakah test pack-nya juga bergaris dua alias positif? Ya bisa ditebak kira-kira bagaimana.

Kemudian dilansir oleh JPNN, malam perayaan Valentine Day alias Hari Kasih Sayang diwarnai aksi hura-hura muda-mudi Cileungsi. Selain pesta seks, mereka juga mabuk-mabukan. Tak heran, penjualan minuman beralkohol meningkat hingga 50 persen. Bukan hanya minuman lokal, tetapi juga impor.

”Selain pesta seks, pesta miras kerap dilakukan saat anak muda untuk merayakan hari Valentine. Bahkan stok miras harus ditambah. Terutama minol (minuman beralkohol) jenis anggur merah. Katanya biar fly saat berhubungan badan,” ujar Solehudin (45) penjual minuman beralkohol di bilanngan jalan narogong kepada Radar Bogor, Sabtu (13/02). Selain minol impor dan lokal, minol oplosan pun turut diburu. Jika hari biasa, penjual tuak hanya membuat 1 jeriken, saat hari Valentine memproduksi hingga 1 drum. “Tuak juga banyak yang nyari. Dan Valentine bertepatan dengan hari minggu jadi penjuaan tuak naik 200 persen,” tutur Solehudin (jpnn.com, 14/02/2016).

Sejumlah Pihak Telah Resmi Melarang Perayaan V-Day

Sejumlah pemerintah kota/kabupaten seperti Bandung, Bogor, Makassar, Malang, Gorontalo, dan Surabaya, telah melarang para remaja di kotanya untuk merayakan hari Valentine. Tak terkecuali MUI, juga melarang (baca: mengharamkan) Valentine.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Malang, Jawa Timur menetapkan Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day haram dilaksanakan. Alasannya, tidak sesuai dengan norma yang berlaku dan ajaran Islam. Fatwa haram resmi dikeluarkan dengan surat edaran larangan merayakan Valentine’s Day bagi umat Islam. Surat edaran tersebut dikeluarkan sejak 9 Februari 2016 dengan nomor 04/FTW-MUI/KTMLG/II/2016.

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Kota Malang, Baroni mengatakan tradisi Valentine seringkali mengabaikan norma agama. ”Cenderung hubungan antar lawan jenis yang bukan muhrim,” kata Baroni seperti yang dilansir Radar Malang (Jawa Pos Group), Sabtu (13/02). Selain itu, Valentine tidak dikenal dalam sejarah dan budaya Islam. Sarat dengan perbuatan dosa. Dianggap bisa mengancam pendidikan karakter bangsa, terutama generasi muda.

”Esensi kasih sayang tidak seperti itu,” papar Baroni. Menurutnya, kasih sayang adalah kasih antar suami istri atau memberi bantuan kepada sesama. Bukan kasih sayang dalam hubungan pemuda pemudi sekarang. Bahroni mengatakan tidak seharusnya umat muslim merayakan Valentine. ”Ini melampaui batas dan cenderung hura-hura,” imbuhnya. Melampaui batas dalam artian melampiaskan kasih sayang dengan cara berciuman antar pemuda pemudi.

MUI melalui Bahroni berharap, masyarakat tidak ikut arus dan budaya Valentine. Fatwa haram MUI dikeluarkan karena menanggapi laporan masyarakat. Lalu diadakan musyawarah pada 7 Februari. Yang kemudian dua hari setelahnya, MUI menetapkan fatwa haram. Dasar penetapan berdasar pada Surat Al-Isra’ [17] ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”

Dan Sabda Rasulullah Saw:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ تُشْتَرَى الثَّمْرَةُ حَتىَّ تُطْعَمَ و قَالَ: اِذَا ظَهَرَ الزّنَا وَ الرّبَا فِى قَرْيَةٍ فَقَدْ اَحَلُّوْا بِاَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ. الحاكم فى المستدرك وقال صحيح الاسناد 2: 43، رقم: 2261

Artinya: Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW melarang menjual buah sehingga bisa dimakan, dan beliau bersabda, “Apabila zina dan riba sudah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan jatuhnya siksa Allah pada diri mereka sendiri”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak, ia berkata shahih sanadnya juz 2, hal. 43, no 2261] (www.jawapos.com, 13/02/2016).

Valentine Tradisi Kafir untuk Legalkan Pergaulan Bebas

Valentine merupakan tradisi yang digencarkan oleh orang-orang kafir untuk melegalkan pergaulan bebas. Valentine merupakan aktivitas yang bukan dari Islam. Jika diperhatikan, alangkah meruginya seorang gadis yang mau hanya diberi sebatang coklat dan setangkai bunga. Terlebih dengan aktivitas seks bebas yang dianggap sebagai puncak perayaan malam Valentine. Sungguh tak sebanding. Momen Valentine jelas memposisikan perempuan dengan penilaian yang sangat murah.

Mengutip pernyataan Ustadzah Irena Handono, Valentine adalah budaya remaja modern yang tidak Islami, yang bersumber dari kaum Nasrani. Valentine yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari itu merupakan salah satu jebakan dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan generasi muda Islam.

Anehnya, yang sibuk mempersiapkan acara berlabel menghalalkan zina itu justru mayoritas diikuti oleh remaja ber-KTP Islam. Mereka tidak sadar, nilai-nilai yang terkandung dalam Valentine day sebenarnya ‘akidah’ Kristen. Bahkan ketika dinasihati, para remaja itu berkata, “Aku ngerayain Valentine kan buat fun-fun aja….”. Padahal, Valentine’s day itu adalah sinkretisme antara budaya dan agama pagan dengan agama Katholik, yang dilakukan oleh Paus Gelasius pada tahun 498 M. Jadi, Valentine day bukan hal yang baru.

Semua berawal ketika seorang Gelasius khawatir melihat pengunjung gereja hanyalah kakek nenek. Sehingga Gelasius menyadari dan cemas akan masa depan gereja, maka ia membawa budaya yang sedang populer di kalangan Kristen itu masuk ke gereja untuk perubahan. Jika dilihat dari negara asalnya, Valentine day itu berasal dari Athena. Di Athena, Valentine day adalah peringatan pernikahan Zeus dan Hera. Peringatan pernikahannya di sebut Gamelion yang diminati oleh muda-mudi, tapi ada fakta lain yang tak banyak diketahui orang, bahkan orang Kristen sendiri, yaitu Zeus dan Hera adalah kakak beradik. Galesius mengadopsi budaya tersebut masuk ke dalam agama Kristen, tapi diganti tokohnya dengan seorang pastur bernama Valentino yang dikabarkan di bunuh oleh penguasa saat itu karena membela atau menyebarkan kasih sayang.

Baru-baru ini peringatan tersebut dilarang oleh beberapa gereja besar, salah satunya Gereja Ortodoks Timur antara lain Rusia, yang tidak tunduk pada Vatikan. Bahkan gereja tidak memperbolehkan perayaan tersebut dirayakan oleh pelajar, pegawai negeri dan pegawai negara. Menurut penelitian Gereja Ortodoks ‘Sean’ (orang suci) bernama Valentino itu tidak ada. Dengan kata lain, Valentino itu hanya tokoh fiktif, sehingga semua kegiatan tentang Valentine dilarang karena hanya berisi perbuatan maksiat.

Banyak yang salah mengartikan tentang Valentine day tersebut, karena faktanya Valentine day sendiri bukanlah termasuk hari besar. Valentine day adalah sebuah hasil dari budaya yang disalahartikan. Di negara-negara yang mayoritas beragama Kristen, perayaan Valentine day hanya dianggap sebagai hari biasa. Parahnya, hanya di Indonesia perayaan Valentine diadakan dengan sangat meriah dan berlebihan, bahkan sampai menjadi momen pesta seks. Na’udzubillaah.

Memang miris, pemuda dan pemudi Muslim ikut merayakannya tanpa mengetahui sejarah apapun mengenai perayaan tersebut. Pesan yang utama adalah jangan hanya berpegang pada “tidak tahu”, karena awal kehancuran dari ketidaktahuan. Hendaklah kita kembali pada agama Islam untuk mengetahui banyak hal yang Haq (benar). Jangan malas untuk mengetahui banyak hal, terutama kalangan pemuda yang sekarang sudah sangat ahli berselancar di dunia maya. Manfaatkanlah keahlian berselancar tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi dirinya untuk menghindari dari kehancuran pribadi di masa yang akan datang.

Rusaknya moral remaja masa kini semakin terlihat dari perilaku mereka yang menyimpang. Psikolog, Sani Bidiantini, menjabarkan penelitian yang dilakukan Universitas Indonesia, yang menunjukkan betapa mirisnya pergaulan remaja masa kini. Berdasarkan penelitian UI, 97 persen anak remaja sudah menonton film porno, 62,7 persen remaja wanita sudah tidak perawan, dan 21,2% remaja wanita telah melakukan aborsi. Bahkan didapat angka terbaru dari BKKBN ada 1 dari 5 remaja putri yang dikumpulkan, bahwa salah satu itu hamil (merdeka.com, 26/04/2015). Jadi jelas, sesungguhnya perayaan Valentine tak ubahnya pesta seks bebas itu sendiri. Habisnya stok kondom di apotek adalah salah satu buktinya.

Sabda Rasul saw berikut ini hendaknya tidak disepelekan. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi saw bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269).

Na’udzubillaah.

Generasi muslim harus punya prinsip dan jati diri yang bersumber dari Islam. Seluruh kaum Muslimin (yang baligh dan berakal) diperintahkan untuk melakukan amal perbuatannya sesuai dengan hukum Islam. Karena, memang kewajiban atas mereka untuk menyesuaikan perbuatannya dengan segala perintah dan larangan Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt: “... apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (TQS Al-Hasyr [59]: 7).

Oleh karena itu, telah menjadi sesuatu yang pasti bahwa apa pun yang dibawa Rasul saw tentang suatu hukum akan mencakup setiap perbuatan dan apa-apa yang dilarang olehnya juga mencakup setiap perbuatan. Dengan ini, setiap muslim yang hendak melakukan suatu perbuatan, wajib baginya secara syar’iy mengetahui hukum Allah Swt tentang perbuatan tersebut sebelum ia melakukannya, sehingga ia dapat berbuat sesuai dengan hukum syara’ (Buku Islam Mulai Akar ke Daunnya).

Khatimah

Pengekoran terhadap budaya yang bukan dari Islam inilah yang menjadikan kaum Muslim terpuruk dan dalam kondisi yang cukup parah, dalam hal ini terutama dari kalangan remaja yang sudah banyak melakukan seks bebas. Mengambil ide milik orang Barat adalah kekeliruan yang besar. Karena ini yang menjadi akar permasalahan umat Islam saat ini. Mereka tidak mengemban Islam sebagai ide, justru sebaliknya mengambil ide orang kafir sebagai idenya.

Lebih dari itu semua, seyogyanya semua ide Islam diadopsi dalam bentuk kebijakan negara, sehingga tradisi-tradisi paganisme semacam Valentine tidak terulang. Benteng diri dan keluarga hanya berkekuatan sementara. Benteng itu tetap saja akan tergerus oleh arus Westernisasi jika tak ada kebijakan negara untuk menjaga kemurnian akidah Islam kaum Muslimin. Westernisasi adalah produk sistem kapitalisme-demokrasi-liberal. Karenanya, penandingnya juga harus berupa sistem, yang dalam hal ini adalah sistem dari Sang Khalik, yang tak lain disebut Khilafah Islamiyah, untuk diemban oleh negara, agar kekuatan ide Islam sebanding dengan ide Westernisasi milik Barat.

Wallaahu a’lam bish showab. []

sumber:
https://www.islampos.com/255306-255306/
https://www.islampos.com/255308-255308/ 

Kamis, 07 November 2013

Haruskah Susah Menikah di Bulan Dzulhijjah?

Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Bulan Dzulhijjah 1434 H baru saja berlalu. Di bulan tersebut, biasanya memang banyak pernikahan digelar. Meski demikian, sejatinya menikah tak harus di bulan Dzulhijjah. Karena atas izin Allah Swt, semua hari adalah baik. Namun yang lucu, mengagetkan dan rasa-rasanya baru kali ini terjadi, Kementerian Agama RI nampaknya kewalahan mengurus menjamurnya jumlah pasangan yang akan menikah belakangan ini. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya stok buku nikah.

Buku Nikah Langka

Jadi, meski telah melangsungkan pernikahan, sejumlah pengantin tak bisa mengantongi buku nikah. Mereka hanya mendapatkan surat pengganti buku nikah. Fenomena ini telah terjadi sejak awal Oktober di beberapa daerah di Tanah Air. Persediaan buku nikah yang menipislah yang menjadi penyebabnya (news.liputan6.com, 31/10/2013).

“Ada beberapa provinsi yang peristiwa pernikahannya di atas 100 ribu beberapa bulan terakhir,” kata Direktur Penerangan Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Mochtar Ali. Mochtar membenarkan adanya kelangkaan buku nikah. Kelangkaan dipicu adanya kelonjakan jumlah pernikahan pada beberapa daerah terutama di 6 Provinsi. Daerah itu yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Banten, dan NTB (news.liputan6.com, 31/10/2013).

“Di awal bulan Oktober stok buku nikah sudah mulai berkurang,” imbuhnya. Selain adanya kelonjakan jumlah pasangan yang melangsungkan pernikahan, Mochtar membeberkan alasan lain kelangkaan stok buku nikah. Penyebab lainnya yakni, pengesahan anggaran Kementerian Agama yang baru dilakukan pada Juni 2013 lalu. Hal ini menyebabkan keterlambatan pelelangan percetakan buku nikah baru (news.liputan6.com, 31/10/2013).

“Kementerian Agama dalam hal ini Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya kekurangan buku nikah pada beberapa provinsi di Indonesia, sehingga beberapa pasangan pengantin yang telah dicatatkan pernikahannya belum memperoleh buku nikah,” kata Direktur Jenderal Bimas Islam, Abdul Djamil. “Kami menargetkan seluruh pasangan pengantin yang belum memperoleh buku nikah dapat mengambil buku nikahnya pada KUA tempat pencatatan perkawinan pada bulan Desember 2013 tanpa dipungut biaya,” lanjutnya (news.okezone.com, 31/10/2013).

Abdul mengungkapkan, Kemenag sedang melakukan proses lelang pengiriman buku nikah yang dilaksanakan oleh ULP Ditjen Bimas Islam. “Setelah dilakukan penandatanganan kontrak lelang pengiriman buku nikah, maka buku nikah segera dikirim ke seluruh provinsi. Ditargetkan buku nikah sudah kembali tersedia di KUA-KUA mulai Desember 2013,” ujarnya (news.okezone.com, 31/10/2013).

Bukan Syarat Sah Nikah

Hal-hal yang menjadi syarat sah nikah dalam Islam, adalah: kedua mempelai (laki-laki dan perempuan), wali dari mempelai perempuan, tidak ada penghalang pernikahan bagi kedua mempelai, dua orang saksi, akad nikah (ijab-qobul), dan keridhoan mempelai perempuan untuk menerima akad nikah (Kitab Nizhomul Ijtima’iy). Memang benar, buku nikah bukan syarat sah ataupun rukun nikah. Akan tetapi, bijakkah ‘menyalahkan’ lonjakan angka pernikahan sebagai alasan kelangkaan buku nikah? Rasanya tidak, karena fasilitas publik seperti buku nikah ini adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah.

Terkait dengan hal ini, Allah Swt telah berfirman: “Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (TQS An-Nuur [24]: 32). Dalam ayat yang lain: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (TQS Ar-Ruum [30]: 21). “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Israa [17]: 32). 

Dan sabda Rasul saw: “Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhori-Muslim). Dalam hadits yang lain: “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah.” (HR. Bukhari).

Betapa hebatnya urusan pernikahan, hingga Allah dan Rasul-Nya dalam banyak ayat dan hadits memerintahkannya. Dan tentunya, urusan ini menjadi penting untuk kelangsungan dan penjagaan kesucian generasi kaum muslimin. Maka tegas pula peringatan Rasul saw dalam sabdanya terkait dengan tanggung jawab pengurusan pernikahan ini oleh pejabat yang berwenang, termasuk dalam hal ini adalah penyediaan buku nikah. Sabda Rasul saw: “Sesungguhnya seorang imam (penguasa) itu (bagaikan) perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan juga berlindung dengannya. Maka jika ia memerintah (berdasarkan) takwa kepada Allah ta’ala dan berlaku adil, maka baginya pahala. Akan tetapi jika ia memerintah tidak dengan (takwa pada Allah dan tidak berlaku adil) maka ia akan mendapatkan balasannya.” (HR. Muslim).

Khatimah

Lucu bukan? Saat di satu sisi pergaulan dan seks bebas difasilitasi dengan kemudahan mendapatkan kondom atas nama kebijakan dari salah satu kementerian, di sisi lain ada perkara pernikahan yang justru halal tapi malah minim fasilitas. Bagaimana zina tak makin subur dibandingkan pernikahan? Tentu ironis bagi negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. Wallaahu a’lam bish showab []

Senin, 23 Juli 2012

Olimpiade 2012; Pesta Olahraga, Pesta Seks

Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Olimpiade 2012, Pesta Olahraga Sedunia
Tak sampai sebulan, Eropa kembali berhelat. Setelah EURO 2012 di Polandia dan Ukraina, kini London menjadi tuan rumah Olimpiade 2012. Event ini berlangsung mulai tanggal 27 Juli sampai 12 Agustus 2012. London terpilih sebagai kota penyelenggara pada tanggal 6 Juli 2005 pada Pertemuan IOC ke-117 di Singapura, mengalahkan Moskwa, New York City, Madrid, dan Paris setelah empat putaran pemungutan suara (id.wikipedia.org, 23/07/2012).
Olimpiade dan Paralimpiade 2012 akan memanfaatkan berbagai gelanggang baru, fasilitas lama maupun yang sudah ada, dan fasilitas sementara, sejumlah di antaranya berada di tempat-tempat terkenal seperti Hyde Park dan Horse Guards Parade. Beberapa fasilitas baru akan digunakan kembali dalam bentuk Olimpiadenya, sementara sisanya akan diperbesar atau direlokasi (id.wikipedia.org, 23/07/2012).
Untuk membantu pendanaan penyelenggaraan, pihak penyelenggara Olimpiade London telah menyetujui kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar. Diantaranya Acer, Atos, Coca Cola, Dow Chemical Company, General Electric, McDonald’s, Omega SA, Panasonic, Procter & Gamble, Samsung dan VISA (id.wikipedia.org, 23/07/2012).
Pada Desember 2011 Pemerintah Britania mengumumkan bahwa 13.500 anggota angkatan bersenjata akan ditempatkan untuk pengamanan Olimpiade, serta 10.000 polisi (yang akan mengawal keamanan penyelenggaraan). Aset angkatan laut dan udara, termasuk kapal di Sungai Thames, jet Eurofighter dan misil darat-ke-udara, akan disiapkan sebagai bagian dari operasi keamanan. Biaya keamanan juga meningkat dari 282 juta menjadi 553 juta poundsterling. Ini akan menjadi operasi keamanan terbesar yang dihadapi Britania selama beberapa dasawarsa (id.wikipedia.org, 23/07/2012).

Olimpiade 2012, Pesta Seks
Di balik sejumlah prestasi para atlet yang unjuk kebolehan, ada fakta yang menarik namun memprihatinkan. Sudah menjadi rahasia umum, Olimpiade 2012 ini sebagaimana ajang serupa sebelumnya, merupakan momentum pesta free sex di kalangan para pesertanya. Maraknya praktek seks di setiap ajang Olimpiade mendorong panitia Olimpiade London untuk mengantisipasi lebih awal dengan menyediakan 150 ribu kondom untuk para atlet. Berkaca dari Olimpiade Bejing 2008, ternyata 100 ribu kondom yang dibagikan masih belum cukup (tribunnews.com, 21/07/2012).
Berdasarkan hal tersebut panitia menggandeng produsen kondom Durex yang siap memasok tambahan puluhan ribu lagi jika memang dibutuhkan. Durex adalah bagian dari grup perusahaan Reckii Benckisser yang menjadi sponsor resmi Olimpiade. Meski banyak pihak yang kontra dengan tindakan ini, juru bicara perusahaan Durex Andraea Dawson Shepherd menyatakan, “Kami dibatasi oleh pedoman penyelenggaraan Olimpiade. Komite Olimpiade telah mengatur apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan.” (tribunnews.com, 21/07/2012).
Seperti dilansir Business Week, pesta seks di kalangan atlet ketika Olimpiade sudah berlangsung lama. Berawal pada Olimpiade Seoul di Korea Selatan 1988 dengan permintaan kondom yang hanya 8.500. Angka itu langsung melonjak menjadi 50 ribu pada Olimpiade Barcelona 1992. Empat tahun kemudian di Sydney, kondom sebanyak 70 ribu habis dipakai dan panitia penyelenggara harus memesan 20 ribu kondom tambahan saat itu (tribunnews.com, 21/07/2012).
Fakta yang seperti telah menjadi rahasia umum di kalangan atlet ini memang mulai terdengar dan diketahui publik. Berita ini menyeruak ketika kiper tim nasional sepak bola Amerika Serikat, Hope Solo, angkat bicara. Akan ada banyak aktivitas seks di Olimpiade. Saya sebelumnya menyaksikan bagaimana orang-orang melakukan hal itu, bahkan di tempat terbuka seperti rerumputan atau lorong bangunan, tutur Hope.Para atlet yang bertindak paling ekstrim. Saat latihan mereka bisa fokus, tapi ketika pergi keluar mereka bisa menghabiskan 20 botol minuman, jelasnya. Hope sendiri tidak menampik dirinya turut menjadi bagian dari skandal itu. Ia mengaku senang punya kesempatan merasakan pengalaman liar tersebut. Ini bisa menjadi pengalaman sekali seumur hidup baik dari sisi seksual, pesta, dan prestasi di lapangan, sambungnya. Josh Lakatos, penembak asal Amerika Serikat juga membagi pengalaman. Di Olimpiade Sydney 2000, ia merasa seperti berada di tempat lokalisai, di mana pesta pora terjadi luar biasa dan tidak pernah ia saksikan sebelumnya (tribunnews.com, 21/07/2012). Na’udzubillaah.

Refleksi Indonesia, Program Kondom Gebrakan Menkes
Bicara fenomena kondom, beberapa waktu lalu hal ini juga menghebohkan negeri kita. Nafsiah Mboi, Menkes yang baru sudah resmi dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Masa kerjanya memang tak lama, hanya 2,5 tahun. Namun bukan berarti masa bakti yang singkat itu menghalangi Menkes untuk membuat suatu perubahan yang signifikan. Terbukti, Menkes yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional ini melakukan gebrakan. Yaitu mengusulkan agar remaja dipermudah aksesnya untuk mendapat kondom (health.detik.com, 15/06/2012).
“Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganalisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN,” kata Menkes. Menkes melihat, angka sebanyak itu menunjukkan bahwa banyak remaja mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Ia menegaskan, Undang-Undang perlindungan anak menyatakan bahwa setiap anak yang dikandung sampai dilahirkan harus diberikan haknya sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan (health.detik.com, 15/06/2012).
Tentu saja hal ini mungkin akan mendapat pertentangan dari kelompok-kelompok tertentu yang menganggap pemberian kondom kepada remaja dapat memicu seks bebas. Tapi Menkes berpendapat, jika pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi sudah cukup baik, tidak perlu ada kekhawatiran idenya ini akan memicu seks bebas. “Kita akan membahas bagaimana hak-hak anak dalam kandungan ini dapat terpenuhi. Kampanye kondom difokuskan untuk seks yang beresiko. Untuk mempercepat pencapaian goal MDGs poin 6 tentang HIV/AIDS, maka kampanye kondom merupakan suatu kewajiban. Setiap hubungan seks yang beresiko menularkan penyakit atau kehamilan yang tak diinginkan adalah hubungan seks yang beresiko,” tegas Menkes (health.detik.com, 15/06/2012).
Sejumlah tokoh pun bereaksi. Diantaranya, Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Jose Rizal Jurnalis. Ia menyatakan bahwa kampanye penggunaan kondom ala Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi itu tidak dilandasi agama dan hanya melihat statistik penyebaran penyakit dengan hubungan heteroseksual. “Dia (Menkes) tidak melihat moralitas dan sebagainya, padahal persoalan ini juga menyangkut moral. Kampanye itu sama saja, silahkan hubungan seks karena ada kondom. Ini kacau, hubungan seks bebas atau seks di luar nikah dilarang agama, tapi kalau terpaksa silahkan pakai kondom. MER-C menolak keras cara mengatasi AIDS dengan cara itu. Hukum agama harus ditegakkan. Hukum agama untuk kemaslahatan umat manusia, tapi banyak yang menganggap itu pengekangan kebebasan. Ini dua hal yang selalu diadu. Kebebasan dibiarkan, nantinya orang bebas menganut seks bebas atas atas nama kebebasan. Terus ada kampanye kondom, ini jadi kacau,” kecam Jose Rizal (itoday/eramuslim.com, 18/06/2012).
Ketua Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, pun buka suara. “Yang jelas bagi-bagi kondom tidak akan selesaikan masalah moral di Indonesia," kata Khofifah. Selain itu, program tersebut juga dinilainya tidak sinkron dengan program kementerian lain yang mengarah pada pembangunan moral dan karakter. Khofifah pun mengatakan, “Berdasar data yang di-up date Muslimat NU pada tahun 2011, ada lima juta perempuan menggugurkan kandungan, sebagian besar berusia 16 tahun ke bawah, yakni mencapai 62%. Persoalan umat yang sudah seperti ini jangan dijawab bagi-bagi kondom bagi remaja kita. Akan tetapi, bagaimana kita ikhtiar luar biasa agar ada iman dan takwa yang tertanam pada anak-anak kita,” katanya (antaranews.com, 19/06/2012).
Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), Iffah Ainur Rochmah, juga angkat bicara. Iffah menyatakan bahwa sosialisasi Menkes tentang penanggulangan AIDS ala UNAIDS ini sangat liberal. Sosialisasi kondom ini tidak akan pernah memutus mata rantai utama penyebaran AIDS yakni menghapus pergaulan bebas, tapi malah memberi jalan keluar agar pergaulan bebas tidak menghantar pada HIV atau kehamilan tak diinginkan. Sejak awal kebijakan terkait penanggulangan AIDS memang sangat liberal. Dengan pengalaman Nafsiah sebagai aktivis HIV/AIDS, implementasi kebijakan liberal tersebut  bisa jadi lebih nyata. Buktinya, baru diumumkan pengangkatannya,  Menkes baru sudah menyatakan ke media akan menggerakkan semua jajaran kementriannya untuk kampanye kondom (hizbut-tahrir.or.id, 17/06/2012).
“Dia (Menkes) anggap keberhasilan kampanye kondom ini adalah indikator keberhasilan penanggulangan AIDS. Masya Allah, bahkan akan menjadikan kalangan remaja 15-24 tahun sebagai sasaran yang tak boleh diabaikan. Mereka diasumsikan belum menikah tapi rawan melakukan seks bebas. Agar tidak terjadi kehamilan dan tidak kena AIDS, pakai saja kondom! Astaghfirullah. Program sangat berbahaya bagi umat. Seks bebas bisa semakin merajalela. Kalau data BKKBN tahun 2010 lalu menunjukkan 51% remaja Jabodetabek telah lakukan seks pra nikah, jangan sampai kita anggap biasa kalau angka ini semakin meningkat. Karenanya program ini harus kita kritisi bahkan layak kita tolak,” tegasnya (hizbut-tahrir.or.id, 17/06/2012).
Iffah menambahkan, tapi kita tak bisa pungkiri, kedaulatan negeri sudah terampas oleh tekanan-tekanan internasional. Liberalisme semakin mengakar kuat. Salah satunya lewat MDGs. Target MDGs 2015 terkait angka penderita HIV/AIDS di Indonesia harus dikejar. Kalau tidak, maka ada ‘hukuman internasional’ yang harus diterima. Pemerintah tidak menimbang masalahnya secara mendalam. Akibatnya semua rekomendasi liberal harus diambil. Termasuk kampanye kondom, dengan mengabaikan dampaknya terhadap makin tingginya pelaku seks bebas demi mengejar ‘pujian’ internasional (hizbut-tahrir.or.id, 17/06/2012).

Perzinaan di Kalangan Remaja Indonesia
Entah apa yang sedang merasuk ke dalam pemikiran Bu Menkes, tapi jangan lupakan yang satu ini. Indonesia kini memiliki predikat anyar. Yakni negara dengan pengakses situs porno nomor satu sedunia. Torehan ini sungguh memalukan. Pasalnya, satu setengah tahun lalu posisi Indonesia masih di urutan tujuh, namun satu bulan silam justru merangsek naik ke posisi teratas. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun membenarkan torehan buruk ini (jpnn.com, 16/06/2012).
“Menurut data dari search engine yang kami dapat, terakhir sekitar satu bulan lalu memang menyebutkan, Indonesia menjadi negara pengakses situs pornografi tertinggi di dunia,” jelas Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Kominfo, Gatot S. Dewa Broto. Walau tidak membeberkan secara rinci berapa besaran angkanya, Gatot menyatakan ini merupakan pekerjaan rumah dan tugas yang harus terus diselesaikan jajarannya. Karena, Kominfo memiliki tanggung jawab moral dalam meminimalisir akses ke situs konten mesum itu. “Kami akan bekerja lebih keras untuk menyelesaikan permasalahan ini,” sambungnya (jpnn.com, 16/06/2012).
Menteri Komunikasi dan Informasi, Tifatul Sembiring menambahkan bahwa efek dari internet tergantung dari pengguna. Kepada Radar Bogor (Grup JPNN) ia menuturkan, berdasarkan riset pornografi di 12 kota besar Indonesia terhadap 4.500 siswa-siswi SMP, ditemukan sebanyak 97,2% dari mereka pernah membuka situs porno. Data selanjutnya juga menambahkan bahwa 91% dari mereka sudah pernah melakukan kissing, petting atau oral sex. “Bahkan, data tersebut juga menyebutkan 62,1% siswi SMP pernah berzina dan 22% siswi SMU pernah melakukan aborsi,” ujarnya (jpnn.com, 16/06/2012).
Seperti diketahui, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah membentuk gugus tugas pencegahan dan penanganan pornografi. Tim yang terdiri dari para menteri hingga pemerintah daerah ini akan bekerja untuk membasmi pornografi secara terpadu. Pembentukan gugus tugas ini ditandai dengan terbitnya Perpres No 25 Tahun 2012 pada 2 Maret lalu. Perpres tersebut mengacu pada Pasal 42 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi yang mengamanatkan dibentuknya gugus tugas. Namun hingga saat ini, tim ini belum menemui hasil maksimal (jpnn.com, 16/06/2012).
Terpisah, Kepala Kantor Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Bogor, Chusnul Rozaqi masih menunggu hasil dari invetarisasi permasalahan ini dari Kemenkominfo. Jadi sudah jelas, belum ada langkah proteksi pornografi yang dilakukan pemkot. “Untuk di Kota Bogor sendiri masih menunggu kewenangan dari pusat,” singkat Chusnul ketika dihubungi semalam (jpnn.com, 16/06/2012).
Pemerhati anak, sosial dan pendidikan, Jeannie Chamidi Ibrahim merasa kecewa dengan predikat baru yang didapat bangsa ini. Jeannie berpendapat, bebasnya akses porno dilatarbelakangi bebasnya keluar masuk warung internet (warnet). “Sampai saat ini tidak ada batasan umur. Kondisi seperti ini yang dikhawatirkan menghancurkan psikis anak-anak,” tukas Jeannie (jpnn.com, 16/06/2012).
Sementara itu, Pakar informatika dan telematika, Roy Suryo mengatakan, fenomena pengunggah situs porno massal itu dinilai bukan hal aneh di sejumlah negara. Apalagi di Indonesia. “Bagi saya pribadi, terus terang masalah ini sudah tidak asing lagi. Apalagi peringkat tersebut karena negara-negara lain juga memiliki kecenderungan yang sama,” jelas Roy. Roy pun menegaskan, pemerintah mesti segera memperbaiki citra internet Indonesia ke arah lebih baik. Dan itu bisa dilakukan via penyebaran software ke sekolah-sekolah, instansi, komunitas dan warnet untuk mengantisipasi lalu lintas situs mesum tersebut. “Harus ada proteksi hardware dari server-nya (hulu) serta diperlukan pendidikan brainware, etika, moral dan keagamaan,” jelas anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat itu (jpnn.com, 16/06/2012).

Larisnya Bisnis Prostistusi Dalam Negeri
Tak hanya remaja, khalayak pun berpotensi makin gemar berzina hingga melariskan bisnis prostistusi. Bahkan, tercatat sejumlah lokalisasi prostitusi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kehabisan kondom. Pasalnya, jumlah pengunjung ke tempat itu meningkat. Pekerja seks komersial di Karang Dempel berinisial YD mengatakan dia biasanya hanya melayani dua orang pelanggan per hari. Namun saat ini dia harus melayani 9-12 pelanggan. Jumlah pelanggan yang harus dilayani meningkat tajam, katanya (tempo.co, 21/07/2012).
Di Karang Dempel, terdapat tiga blok kamar yang digunakan para penghuni. Setiap blok terdapat 20-30 kamar, sehingga total kamar yang ditempati pelacur di situ mencapai 100 orang. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTT Gusti Brewon membenarkan habisnya kondom di Karang Dempel. Namun pihaknya sedang berupaya meminjam kondom dari tempat lain. “Benar, kondom habis karena tingginya pengunjung ke lokalisasi itu,katanya. Menurutnya, stok kondom memang terbatas karena pengiriman kondom dari KPA Pusat terlambat. Namun pihaknya sudah berkoordinasi dengan BKKBN untuk segera mengirim kondom ke tempat itu.BKKBN akan segera mengadakan dan mengirim kondom ke lokalisasi,katanya (tempo.co, 21/07/2012). Astaghfirullaah.

Atlet dan Generasi Muda, Aset Potensial yang Dihancurkan
Atlet olahraga pada umumnya adalah generasi muda dari suatu negeri yang tentu mereka ini diharapkan dapat mengharumkan nama bangsa. Akan tetapi, pernahkah sedikit kita tarik fakta ke arah sejauh mana tingkat tekanan yang mereka alami hingga mereka berorientasi seks dan hedonisme saat di luar lapangan? Tanpa iman, fenomena penyediaan kondom oleh panitia di balik ajang lapangan Olimpiade terbukti mencoreng sejumlah prestasi yang mereka raih.
Beralih ke dalam negeri, para pejabat negeri ini memang makin linglung mengelola aset negara. Generasi muda yang seharusnya menjadi tulang punggung peradaban justru dibenamkan hingga kerak dasar yang membuat mereka menjadi golongan biadab. Sadarkah para pejabat akan hal itu? Ke mana larinya nilai kemanusiaan dalam diri Bu Menkes sebagai seorang perempuan yang juga seorang ibu? Bagaimana jika ia menjadi salah satu ibu dari para remaja tersebut? Mengapa kebijakannya tidak menjaga tapi malah memfasilitasi generasi muda untuk menjadi biadab dengan makin berpotensi melakukan zina? Pembangunan semacam apa yang bisa diharapkan dari para pemuda yang isi kepalanya nafsu birahi semata? Fakta pengiriman kondom dari lembaga pusat, jelas menunjukkan adanya fasilitas terhadap seks bebas. Na’udzubillaah.
Demikian pula, pasti menyesatkan bila dikampanyekan bahwa dengan penggunaan kondom akan tercegah dari HIV/AIDS. Kondom didesain sebagai alat kontrasepsi, pencegah kehamilan. Bukan sebagai penangkal menyebarnya virus melalui hubungan kelamin. Kebanyakan ahli juga sudah memberitakan bahwa pori-pori kondom berukuran lebih besar dari virus HIV, berarti virus tetap bisa menular meski memakai kondom. Lebih penting lagi, seks di luar nikah (zina) adalah dosa besar, baik menularkan HIV atau tidak, terjadi kehamilan atau tidak (hizbut-tahrir.or.id, 17/06/2012).

Islam Menjaga Generasi
Firman Allah Swt yang berisi peringatan keras berikut ini hendaknya membuat kita sesempurna mungkin dalam bercermin, karena manusia itu lemah. Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Israa [17]: 32). Dan sabda Rasul saw: “Jika zina dan riba merjalela di suatu negeri maka mereka telah menghalalkan adzab Allah atas diri mereka.” (HR. Hakim, Thabrani dan Baihaqi).
Kaitannya dengan hal ini, Islam mengatur tentang pemeliharaan keturunan. Islam telah menurunkan hukum-hukum berikut sanksi-sanksi yang berfungsi sebagai pencegah, dalam rangka memelihara keturunan manusia dan nasabnya. Islam telah mengharamkan zina dan mengharuskan dijatuhkan sanksi bagi pelakunya. Hal ini bertujuan untuk menjaga lestarinya kesucian dari sebuah keturunan. Sehingga, seorang ayah akan tetap dapat memelihara anak-anaknya serta merawat mereka, di mana ia dapat memastikan bahwa anak-anak tersebut merupakan bagian dari dirinya sendiri (darah dagingnya) (Kitab Dirosah al-Fikr). Karenanya, anak tersebut harus diperoleh dengan jalan yang sah, yaitu pernikahan, bukan perzinaan.
Bahkan, Islam pun telah menyediakan solusi berlapis agar manusia makin terjaga dan berhati-hati menyikapi zina. Islam telah mengatur masalah hadd al-qadzaf (menuduh berzina), yakni bagi siapa saja yang menuduh orang lain telah berbuat zina tanpa membawa bukti, maka kepadanya akan dijatuhkan hukuman jilid (cambuk) (Kitab Dirosah al-Fikr). Artinya, sekalipun zina merupakan salah satu pelanggaran hukum syara’, tapi menuduh zina terhadap seseorang tanpa alasan, ternyata juga termasuk pelanggaran terhadap hukum syara’. Maka, kita pun harus cermat.

Olahraga, Modal Jihad
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa Olimpiade telah bertambah fungsi menjadi wahana seks bebas. Misi olahraga yang diemban tak lebih dari topeng. Tak heran, demikianlah kondisinya saat olahraga dikelola oleh para pengusung sistem kapitalisme-liberal. Yang haram telah dihalalkan, atas nama profit dan dana kemitraan.
Terkait dengan olahraga sendiri, Rasulullaah saw memerintahkan agar anak-anak muslim diajari olahraga berenang, berkuda, dan memanah. Yang mana, jenis olahraga tersebut dapat digunakan untuk survival, membela diri dan tentunya berjihad. Sebutlah contohnya pencak silat, di mana Nusantara terkenal dengan pencak silat sebagai jenis olahraga bela dirinya. Perkembangan dan penyebaran pencak silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum ulama seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14. Pencak silat lalu berkembang dari sekedar ilmu bela diri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah kolonialisme (TSQ Stories Jilid 2 2011).
Disamping itu, pencak silat juga menjadi bagian dari latihan spiritual. Sejak dulu, pencak silat diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Dan sudah menjadi tradisi di pesantren-pesantren, bahwa ilmu silat tingkat tinggi hanya diberikan kepada santri yang telah khattam kitab-kitab fiqih tingkat lanjut, serta telah terbukti mampu menahan gejolak hawa nafsunya. Hal ini terbukti jejaknya di berbagai pesantren di Nusantara, yang pastinya cerminan tradisi yang sama dan merata di wilayah yang lain dalam kekuasaan Daulah Islam. Karena tidak akan mungkin Daulah Islam memiliki para mujahid yang tangguh manakala mereka tidak memiliki mata airnya, yaitu para santri yang mempraktikkan olahraga para mujahid (TSQ Stories Jilid 2 2011). Bahkan, beberapa perang yang dipimpin oleh Rasulullaah saw, seperti Perang Badar dan Uhud, terjadi pada bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan, di mana seluruh motivasi ruhiyah tertumpah hanya untuk meraih ridho Allah Swt.

Antara Olimpiade dan Ramadhan
Oleh karena itu, bertepatan dengan bulan yang di dalamnya syaithan dibelenggu oleh Allah Swt ini, hendaknya kita merenungi dan mengaplikasikan sabda Rasulullaah saw: “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya.” (HR Bukhori, Muslim).
Menjadi atlet maupun pemuda pada umumnya, harus senantiasa melanggengkan motivasi iman dalam berbagai kondisi, terlebih saat bulan Ramadhan. Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,” (TQS Al-Baqoroh [2]: 183). Demikianlah Allah Swt memerintahkan agar puasa menjadi jalan menuju taqwa.
Olimpiade yang tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan 1433 H, memang perlombaan olahraga yang secara hukum asalnya mubah. Namun jika dipenuhi warna-warni liberal seperti seks bebas, maka hal ini menjadi jalan menuju keharaman. Atlet dan generasi muda yang berkiprah untuk sebuah prestasi dengan tidak menjadikan penerapan syariah Islam dalam Khilafah sebagai jalan dan targetnya, maka mereka akan merasa lelah dan sia-sia karena prestasi hakiki tidak akan pernah terwujud. Prestasi sebagai wujud perubahan dan kebanggaan hanyalah sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11: ”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Allah Swt telah menyambut kiprah hamba-Nya dalam upaya penegakan Khilafah dalam QS Ali ‘Imran [3] ayat 195: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain...” Karenanya, Khilafah adalah model pemerintahan yang akan melahirkan generasi cemerlang hingga masyarakat yang bernaung di dalamnya memperoleh kesejahteraan serta kemuliaan di dunia dan akhirat, insya Allah. Walhasil, bagi kaum muda sebagai generasi cemerlang dan mutiara peradaban, mari sambut dan isi Ramadhan dengan mengokohkan keimanan untuk menyatukan langkah dalam menegakan syariah dan Khilafah.
Wallaahu a’lam bish showab [].